Tags

, ,

Pulau Tinabo yang eksotik

Kapal Cahaya Ilahi telah ramai oleh penumpang di jumat siang itu. Kapal dengan kapasitas hingga 200 orang ini akan membawa kami ke Pulau Jinato. Pulau Jinato termasuk dalam kawasan Taman Nasional Takabonerate dan merupakan pusat acara Takabonerate Islands Expedition (TIE).

Kapal Cahaya Ilahi yang kami tumpangi disewa khusus oleh Bupati Selayar untuk mengangkut para panitia TIE dan beberapa undangan, termasuk ikut di dalamnya istri dari Bupati Selayar.

Suasana di atas kapal Cahaya Ilahi

Menikmati perjalanan di haluan depan kapal.

8 jam perjalanan yang kami harus tempuh untuk sampai ke pulau Tinajo. Bukan menjadi masalah buat saya walaupun kita harus menempati haluan depan kapal karena penuhnya penumpang. Tapi menjadi masalah besar ketika saya tiba-tiba menderita sakit perut hingga mencret-mencret selama di atas kapal (mungkin karena pedisnya makanan Padang yang saya makan sebelumnya).

Malangnya saya, harus 4 kali bolak-balik wc kapal yang hanya ada 1 buah. Ditambah lagi ketika antrian yang banyak oleh orang yang ingin buat hajat. Masuk dalam wc, saya kembali bingung tidak menemukan air dalam ember. Saya keluar bertanya ke seorang bapak yang juga ikut mengantri, “Pak, airnya ambil dimana?”,  si bapak itu menjawab, “Ambil langsung dari laut dek, timba dulu airnya dari lubang itu, tampung di ember”.What? Hahaha. Ambil air dan buang air di lubang yang sama. “Ok, baiklah”, kata saya dalam hati yang hanya bisa senyum-senyum kecut.

‘Penderitaan’ saya cukup terobati dengan pemandangan sunset yang kembali kami dapat tepat di tengah laut. Kata Daeng Nuntung, biasanya kita bisa melihat beberapa ikan paus sepanjang perjalanan ke pulau Jinato, tapi sayang hari itu kita kurang beruntung. Ikan paus hari itu rupanya malu-malu menampakkan diri.

Sunset yang kedua.

 

Sampai di Pulau Jinato

Pukul 10 malam kami sampai di pulau Jinato. Kapal tidak langsung merapat ke dermaga karena kapal yang cukup besar tidak boleh merapat disebabkan adanya rataan karang yang sangat luas di sekeliling pulau. Kapal akan mengalami kandas dan merusak padang karang sehingga tidak boleh sampai ke dermaga. Kurang lebih 2 km dari dermaga kapal sudah harus menurunkan jangkarnya. Rombongan dijemput oleh beberapa kapal kecil katinting yang telah disiapkan yang dipimpin langsung oleh bapak camat setempat.

Di atas perahu katinting yang mengantar kami ke dermaga, dalam keadaan malam yang gelap dengan bantuan senter, saya bisa melihat sendiri indahnya rataan terumbu karang yang menghiasi pulau Jinato.

Setibanya di pulau Jinato, pusat kegiatan TIE III, kami langsung disambut oleh anak sekolah lengkap dengan seragam sekolahnya dan menuntun kami ke rumah Pak Desa. Jamuan makan malam telah disiapkan untuk seluruh tamu. Setelah itu kami rombongan blogger diantar ke salah satu rumah warga untuk beristirahat.

Pulau Jinato sendiri menurut saya cukup berkembang dibandingkan pulau-pulau kecil yang pernah saya datangi. Pulau yang penghuninya sebagian besar berasal dari suku Bugis Sinjai ini cukup baik dalam taraf ekonomi. Hal itu bisa dilihat dari rumah-rumah yang dibangun di pulau ini yang cukup bisa dibilang ‘mewah’ dalam sebuah pulau kecil.

Perjalanan ke Pulau Tinabo

Teh hangat, kue, dan mie instan menjadi sarapan kami di pagi hari di pulau Jinato. Pagi itu kita sudah bersiap berangkat ke pulau Tinabo yang merupakan pulau utama kunjungan para pelancong ke kepulauan Takabonerate.

Perahu yang kami tumpangi telah merapat. Sebelumnya, kami menyempatkan diri untuk singgah ke markas Jagawana Takabonerate, polisi perairan yang bertugas menjaga 220.000 hektar luasnya perairan Takabonerate dari tangan-tangan jahil.

Markas Jagawana Takabonerate. foto: daenggassing.com

Dibutuhkan sekitar 2 jam perjalanan laut dari pulau Jinato ke pulau Tinabo. Sekali lagi, kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa indah oleh padang atol yang terbentang luas dan ragam ikan laut berlalu-lalang. Kawasan ini adalah atol ketiga terbesar di dunia atau terbesar di Asia Tenggara.

Topografi Takabonerate sangat unik dan menarik, di mana atol yang terdiri dari gugusan pulau-pulau gosong karang dan rataan terumbu yang luas dan tenggelam, membentuk pulau-pulau dengan jumlah yang cukup banyak. Total ada 21 pulau dalam gugusan ini dan 8 diantaranya berpenghuni.

 

 

Tinabo yang eksotik

Dermaga Tinabo dipenuhi umbul-umbul yang menyambut kami dengan cerah. Hari itu cuaca nampak terik namun tidak menyurutkan kami untuk menikmati indahnya bawah laut pulau Tinabo. Anak pantai tidak pernah takut dengan terik matahari yang menghitamkan kulit.

Belum selesai takjub dengan keindahan pulau dan laut yang bening seperti cermin, kami disuguhkan lagi dengan pemandangan yang unik oleh ribuan ikan Lure yang bergerombol membentuk formasi yang sangat indah tepat dibawah dermaga labuhan.

Yang hitam itu adalah ribuan ikan Lure.

Kami disambut hangat oleh Asri dan beberapa anggota Sileya Scuba Divers (SSD Sileya) yang memfasilitasi kami selama di Tinabo. Setelah beristirahat sejenak di bawah sebuah gazebo, kami pun mengganti baju, mengoles sunblock, dan meluncur ke laut bening.

Ada banyak fasilitas ‘bermain’ air yang disediakan oleh pengelola. Selain peralatan dive dan snorkle juga tersedia perahu kano, speedboat hingga banana boat. Secara keseluruhan, fasilitas wisata yang ada di Tinabo ini sudah lengkap. Terdapat tiga villa yang cukup nyaman, aula besar, beberapa gazebo dan wc umum yang bersih, juga terdapat beberapa tenda pleton yang dapat digunakan ketika wisatawan banyak dan juga ada dapur umum yang menyajikan masakan laut yang tentu nikmat.

Saya dan teman blogger yang lain menikmati indahnya terumbu karang yang masih terawat alami dengan melakukan snorkling. Cikal, lebih memilih bermain kano dulu sebelum turun ke laut. Daeng Syamsoe, selain bersnorkling juga mencoba dive intro yang dibimbing langsung oleh bapak Jamil Nadzrun, seorang instruktur selam dari Sileya Scuba Divers dan juga petugas TN Takabonerate.

Beruntung kami dipinjamkan kamera underwater oleh Mude Zulkifli, teman dari SSD. Jadi kami bisa mengabadikan setiap momen yang sangat luar biasa di bawah laut Taman Nasional Takabonerate.

Padang terumbu yang indah

 

Ikan-ikan yang berwana cantik.

 

Yuhuuu.. akhirnya bisa snorkling lagi.

Daeng Nuntung in action

 

K' ning (istri Dg. Nuntung) tidak kalah hebat urusan menyelam.

 

Pak Jamil dengan 7D dan housingnya yang bikin ngiler.

 

Snorkling & diving. Taken from: denun.net

Tidak jauh dari pesisir pantai yang dipenuhi terumbu karang, beberapa meter setelahnya langsung dihadapkan oleh palung dalam yang juga menampilkan kekayaan alam yang memanjakan mata. Karang memiliki pertumbuhan yang sangat lambat, hanya sekitar 1-2 cm per tahun sehingga kami selalu diingatkan untuk tidak menginjak karang yang rapuh. Terdapat juga beberapa titik transplantasi karang yang menjadi program konservasi Taman Nasional. Budidaya terumbu karang tersebut menambah keelokan Takabonerate.

Goodbye Tinabo

Tidak terasa jam menunjukkan pukul 13.oo. Setelah lebih dari 2 jam bermain air, satu per satu kami kembali naik ke dermaga. Yulivya dan Asri dari SSD menyajikan kami makan siang yang sangat nikmat. ikan bakar, ikan goreng, sambel dan sayur kacang langsung saya lahap dengan puas. Perut keroncongan setelah snorkling terbalas dengan makanan laut yang segar langsung dari perairan sekitar.

Hari itu, serasa ingin mengulanginya lagi, ingin berlama-lama di Tinabo, tetapi sebuah trip yang indah pasti harus bertemu kata akhir.

Sore hari, perahu Haji Kusa’ yang menjemput kami telah merapat. Kami harus menginggalkan Tinabo menuju Pelabuhan Pattumbukang di selatan pulau Selayar kembali ke kota Benteng Selayar dan selanjutnya kembali ke Makassar keesokan harinya.

5 jam perjalanan laut kami tempuh dengan sebuah perahu kecil. Di sini, di tengah laut Flores, kembali saya menyaksikan sunset untuk hari ketiga secara berturut-turut dengan 3 jenis kapal yang berbeda. Momen tersebut tentu  tidak kami lewatkan untuk tidak mengambil foto. Saya, Vby, K’ Cikal, K’ Anchu dan Dg. Ipul, bergantian berfoto di ujung haluan perahu yang berhadapan langsung dengan matahari yang mulai menyingsing.

Angin laut, siluet cahaya matahari, dan gemuruh mesin perahu serta ribuan kerlap-kerlip bintang di malam harinya memberikan suasana yang sulit untuk saya bahasakan dan tentunya tak akan pernah terlupakan.

 “One’s destination is never a place, but a new way of seeing things.” – Henry Miller

Advertisements