Tags

, , , ,

I ♥ Laut

Bermula dari sebuah email yang dikirim Pak Presiden ISLA, Daeng Nuntung di milis AM. Email tersebut berisi undangan dari Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Selayar yang mengajak beberapa blogger untuk berkunjung ke acara Takabonerate Islands Expedition (TIE) yang ketiga.

Tanpa berpikir panjang saya langsung membalas email tersebut untuk mendapatkan satu tempat di acara tersebut. Kapan lagi bisa trip gratis ke Taman Nasional Takabonerate dengan gratis. tis. tis.

Perjalanan Ke Pulau Selayar.

Kamis pagi (17/11/2011) saya sudah berada di Terminal Malengkeri bersama teman-teman blogger yang lain. Total ada 9 pasukan Angingmammiri yang ikut dalam trip ini. Daeng Nuntung sebagai ketua rombongan bersama istri, Daeng Ipul, Daeng Mappe, Daeng Syamsoe, K’ Cikal, dan Vby, serta tambahan K’ Anchu yang kebetulan berada di Bulukumba dan ikut gabung dalam rombongan trip.

Perjalanan kami pukul 9 pagi kami berangkat mengendarai bus Aneka yang melayani angkutan penumpang Makassar – Selayar. Baru pada sore hari pukul 4 kami sampai di Pelabuhan Beru di Kabupaten Bulukumba. Untuk mencapai Kabupaten Selayar kami harus menyeberang pulau menumpangi kapal Ferry. Pulau Selayar adalah satu-satunya Kabupaten di Sulawesi Selatan yang berupa pulau dan terpisah dari daratan pulau Sulawesi. Dan untuk mencapai kepulauan Takabonerate kami harus melewati Pulau Selayar dahulu. Sungguh perjalanan menuju ‘surga’ itu panjang.

Selayar - Google Maps

Ini adalah pengalaman pertama saya ke pulau Selayar dan yang pertama juga naik kapal ferry. Beruntung kapalnya berlabuh di sore hari sehingga kami disuguhkan pemandangan sunset yang indah dari atas kapal dan berada di tengah laut Flores.

Sunset dari laut Flores

Dua jam lebih perjalanan kapal ferry akhirnya kami sampai di Pelabuhan Pamatutu, pelabuhan di utara pulau Selayar. Bus selanjutnya mengantarkan kami ke kota Benteng, ibukota Kabupaten Selayar, 50 km dari Pelabuhan Pamatutu.

Pukul 9 malam kami akhirnya sampai di kota Benteng dan langsung menuju tempat pengisian lambung. Perjalanan yang panjang cukup menguras energi dan membuat capai. Rumah makan Padang jadi tempat pilihan makan malam yang ternyata bersebelahan dengan kantor Tinabo Dive Center. Setelah makan malam, kami mampir sebentar ke Tinabo Dive Center bertemu dengan beberapa anggota dari Sileya Scuba Divers.

Berkunjung ke rumah Kadis Pariwisata Selayar

Setelah berkunjung ke Tinabo Dive Center, kami langsung menuju ke kediaman Bapak Andi Mappagau, Kadis Pariwisata Kabupaten Selayar. Berbincang banyak mengenai kepulauan Takabonerate yang merupakan gugusan atol terbesar ketiga di dunia. Mengenai prospek pariwisata kedepannya dan beberapa tantangan yang menghinggapi pengelolaan Taman Nasional ini. Perbincangan yang hangat dan jamuan yang ramah oleh bapak Kadis Pariwisata.

Sekitar pukul 11 malam, kami tiba di penginapan yang telah disiapkan oleh bapak Kadis. Hanya sempat menaruh barang bawaan dan mandi, kami berangkat lagi ke tempat berkumpul teman-teman dari Sileya Scuba Divers. Tepatnya di Cafe TB @KafeTempatBiasa. Kafe ini menjadi basecamp Sileya Scuba Divers dan para aktivis kelautan serta diver yang mampir ke Selayar. Majalah DiveMag Indonesia juga menjadikan tempat ini sebagai pickup points untuk kawasan Sulawesi Selatan.

Kafe Tempat Biasa

Saya melihat kekompakan yang luar biasa dari teman-teman SSD (Sileya Scuba Divers). Semangat yang mempersatukan mereka untuk menjaga dan mengedukasi masyarakat agar melestarikan taman laut di seluruh kepulauan Selayar dan Takabonerate pada khususnya. Kecintaan terhadap laut yang menggerakkan mereka walau berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Malam itu kami isi dengan diskusi yang panjang tentang segala informasi mengenai gugusan pulau yang ada di Kabupaten Selayar serta berbagai keunikannya.

Jarum jam menunjukkan angka 1. Sudah larut malam untuk mengakhiri hari yang menyenangkan. Kami kembali ke penginapan dan beristirahat mengembalikan energi untuk trip sesungguhnya di hari berikutnya.

Menyeberang ke Pulau Gusung

Pulau Gusung merupakan pulau yang berhadapan langsung dengan kota Benteng, ibukota Selayar. Pagi itu, cuaca pulau Selayar nampak sangat cerah. Kami sudah berada di dermaga Rauh Rahman untuk menyeberang ke Pulau Gusung. Menaiki katinting yang sesak diisi 11 penumpang termasuk 2 guide dan seorang ‘supir’ perahu.

Dibutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke Pulau Gusung. Perahu merapat dan kami disambut dengan padang lamun  dan terumbu cantik yang terlihat jelas oleh jernihnya air. Pulau ini merupakan sentra penghasil kelapa. Tidak heran, pulaunya dipenuhi oleh ribuan pohon kelapa yang menjulang tinggi. Di pulau ini juga terdapat peninggalan pabrik kakao yang dibangun oleh pemerintah Belanda.

Peninggalan Belanda

Ditinggali oleh sekitar 200 kepala keluarga yang terbagi atas 3 dusun. Pulau ini menyajikan pemandangan laut yang indah dengan pasir putih seperti putihnya tepung. Sayang sekali, saat kami datang air laut sangat surut sehingga rencana untuk snorkling akhirnya dibatalkan. Kami hanya berjalan mengelilingi pulau sambil mengambil beberapa foto.

Ribuan pohon kelapa di Pulau Gusung

Pulau Gusung terbagi menjadi 2 daratan, yakni Gusung Tallang dan Gusung Lengo’. Pulau tersebut awalnya bersatu namun di tahun 70′ terjadi badai besar yang memisahkan pulau tersebut. Dengan kerja sama dari masyarakat desa, mereka membangun desanya. Mereka membangun jembatan kayu untuk menyatukan kembali  Gusung Tallang dan Gusung Lengo’. membangun jalan setapak beton yang memudahkan aktivitas masyarakat desa dan genset untuk keperluan listrik.

Perbedaan pasang dan surut yang sangat jauh

 

Jembatan Pulau Gusung

 

Jalan setapak di Pulau Gusung

Menjelang siang hari, kami meninggalkan Pulau Gusung dan kembali ke Benteng. Bersiap untuk perjalanan panjang ke Pulau Jinato dan Tinabo yang merupakan destinasi utama trip kami.

Sampai bertemu di Pulau Tinabo…..

 

Advertisements