Tags

,

Dilahirkan di pelosok desa nun jauh di Papua sana, di distrik Bade kabupaten Marauke. Dilahirkan di dalam sebuah kamar pada sebuah rumah kayu sederhana di seberang Sungai Digul, sungai tempat dibuangnya Bung Karno. Setelah numpang dilahirkan di Papua, tahun 1989 ketika saya berumur setahun lebih. Orang tua saya memutuskan untuk kembali ke tanah kelahiran, tanah kampung halaman, Makassar.

Makassar sewaktu kecilku

Dibesarkan di Makassar, bukan di sepanjang jalan pinggir Losari, bukan di kawasan elit Panakkukang, apalagi dibesarkan di lokasi ‘kota baru’ Tanjung Bunga. Tetapi saya dibesarkan dahulu di mana tawuran adalah hal yang biasa, miras adalah minuman ‘persahabatan’, judi adalah hal rutin yang menyenangkan bahkan ‘esek-esek’ merupakan perdagangan dengan perputaran uang yang besar. Yak, saya dibesarkan di kelurahan Barabarayya. Daerah di mana orang menyebutnya daerah ‘Texas’.

Cukuplah nama sebuah lorong di dekat rumah saya mewakili kerasnya kehidupan masyarakat asli Makassar. Lorong tersebut dinamakan ‘Lorong Neraka’. Lorong tempat bermain saya sewaktu kecil. Lorong dengan segala dinamika yang menyertainya. Lorong yang memberi banyak kenangan yang memberi simpul senyum pada bibir saya.

Di tempat inilah saya menghabiskan masa kecil saya. Dikenalkan dengan kehidupan urban yang termarjinalkan. Ditempa dengan kerasnya sikap masyarakat yang ‘dipaksa’ untuk berjuang di kerasnya hidup kota. Di pinggir kanal, di sinilah saya bermain layangan. Di sinilah saya belajar mengendarai sepeda, bermain kelereng, main Playstation, belajar membuat palappo busi (petasan), meriam bambu, bahkan belajar membuat panah busur beracun (yang terakhir itu jangan ditiru).

Tetapi di sini pula saya belajar mengaji, belajar pentingnya sholat 5 waktu, belajar pentingnya nilai-nilai agama dan pentingnya pendidikan serta di sini pula karakter saya dibentuk sedari kecil.

Alhamdulillah sekarang Barabarayya telah berubah banyak. Sejak meninggalnya beberapa bos preman dan warga semakin dewasa berpikir, kejadian tawuran dan hal-hal negatif lainnya telah jauh berkurang. Bahkan saya tidak pernah lagi mendengar kejadian tawuran di Barabarayya. Hal yang patut disyukuri.

Saya tetap bersyukur dan tidak pernah menyesal bisa dibesarkan di Barabarayya.

Pindah rumah

Sisi lain dari kota Makassar saya rasakan di tahun 2001. Ketika kedua kakak saya berhasil masuk di Universitas Hasanuddin, keluarga kami memutuskan untuk pindah rumah. Karena jauhnya jarak antara Unhas dan rumah kami, maka keluarga pun memutuskan untuk pindah rumah ke Kecamatan Tamalanrea, tepatnya di Bumi Tamalanrea Permai (BTP). Perumahan yang letaknya jauh dari pusat kota. Perumahan yang berdekatan dengan Kampus Unhas. Alhamdulillah keputusan orang tua saya itu tepat, karena akhirnya seluruh anaknya bisa berhasil masuk di Kampus Unhas yang katanya ‘terbaik’ di Indonesia Timur tersebut.

Di BTP ini saya menghabiskan masa remaja saya sampai sekarang ini. Di daerah yang difokuskan sebagai kawasan pendidikan kota Makassar. Di sebuah daerah yang memberi rasa lain terhadap kota Makassar. Kawasan yang dipenuhi oleh kemajemukan. Di sinilah saya belajar mengenal hidup dalam toleransi keberagaman. Dari berbagai suku berkumpul dan menghiasi geliat kehidupan kota Makassar.  Sangat indah.

404 tahun kota Makassar

Pantai Losari

Kini, kotaku, kota Makassar, telah berumur 404 tahun. Kota yang sedang berbenah menuju kota dunia. Makin bersolek dengan kemajuan zaman, dan makin ramai dengan kreatifitas anak mudanya. Namun juga makin semrawut dengan kemacetan, makin dibanjiri sampah visual berupa baligho dan tentu saja yang memiriskan masih sering ‘dihiasi’ oleh tawuran yang sungguh sangat kampungan.

Makassar, kotaku yang semakin menua. Teruslah berbenah ke arah yang lebih baik. Semoga engkau makin dicintai, memberi kenyamanan bagi masyarakatnya dan bagi para tamu.

Selamat ulang tahun Makassar.

‘Nakke anak Makassar ces’

Advertisements