Tags

, , ,

Suasana Tudang Sipulung Angingmammiri

 

Minggu, 23 Oktober 2011. Sore yang cerah di halaman depan Kampung Buku. Tempat yang nyaman untuk berkumpul para penikmat buku dan pemerhati budaya. Sore itu telah diramaikan oleh beberapa anak muda yang saling bercerita dan melempar tawa. Mereka hadir dalam acara Tudang Sipulung Angingmammiri.

Tema yang diangkat pada Tudang Sipulung kali ini adalah ragam kuliner lokal. Khususnya membahas mengenai kekayaan penganan dan kue khas Sulawesi Selatan serta kiat sukses berbisnis di bidang kuliner.

Tiga pembicara hadir pada Tudang Sipulung ini, yakni Yuli Tanyadji pemilik Cafe Mama Serui dan Panakukkang. Ibu Amanda, pemilik warung Pisang Ijo Amanda di Pasar Segar Panakukkang. Kemudian ada juga John Chendra dari Toko Ujung Jl. Somba Opu. Dipandu oleh Dg. Ipul (ketua Angingmammiri.org) sebagai moderator.

Berbagi Pengalaman

Ibu Amanda sebagai pembicara pertama menceritakan sejarah awal dirintisnya usaha kulinernya. Memulai usahanya, sebenarnya Ibu Amanda terjun di bisnis pakaian namun akhirnya beralih ke bisnis kuliner. Karena dasar kecintaannya akan kuliner lokal terkhusus terhadap Pisang Ijo, beliau meracik komposisi yang pas untuk pisang ijo buatannya.

Awalnya, Ibu Amanda mengenalkan Pisang Ijo buatannya kepada para pelanggan pakaiannya dan respon positif banyak datang dari banyak orang. Beliau tambah bersemangat untuk membuat Pisang Ijo yang paling cocok untuk lidah kebanyakan orang. Beliau pun akhirnya membuka usaha Pisang Ijo ini dengan tetap menjalankan usaha jual beli pakaian. Seiring waktu, usaha Pisang Ijo Ibu Amanda ternyata laris manis sedangkan usaha di bidang pakaian terus menurun sehingga Ibu Amanda akhirnya fokus ke usaha kuliner Pisang Ijo ini. Dan sekarang usaha Pisang Ijo Ibu Amanda telah membuka toko di tiga kota, Makassar, Jakarta, dan Kendari.

Ibu Amanda berbagi pengalaman dengan Pisang Ijo Amanda

Ibu Amanda memberi nasihat kepada kita yang ingin memulai usaha bahwa usaha yang kita jalankan harus sesuai dengan kecintaan kita. Harus sesuai dengan apa yang kita senangi. Terkhusus mengenai usaha kuliner, Ibu Amanda mengatakan bahwa kuncinya adalah menguasai betul resep dan komposisi apa yang kita sajikan karena itu yang menjadi rahasia yang tidak dimiliki pesaing kita.

Pemateri kedua diisi oleh Yuli Tanyadji, pemilik Cafe Mama. Sebuah cafe yang saat ini menjadi salah satu pilihan utama menikmati kuliner berkualitas di kota Makassar. Sama seperti Ibu Amanda, beliau juga memilih terjun ke usaha kuliner karena kecintaannya akan memasak dan membuat kue. Saat ini, Cafe Mama menyajikan berbagai macam menu yang dapat dinikmati mulai dari kuliner mancanegara sampai kuliner lokal khas Sulawesi Selatan.

Yuli Tanyadji yang sementara hamil tapi tetap semangat bercerita tentang kuliner

‘Dua tahun pertama memulai usaha merupakan tahun kritis. Apabila usaha kita bisa bertahan sampai dua tahun pertama, maka yakin usaha kita bisa berjalan lebih baik lagi ditahun-tahun berikutnya’, begitu kata ibu yang juga berprofesi sebagai urbanis ini.

‘Jadilah pemain pertama dan jangan takut dikritik. Jadikan kritik untuk memotivasi usaha Anda’, tambahnya.

Berbeda dari dua pembicara pertama yang dari perempuan. Pembicara terakhir adalah seorang bapak dua anak yang ahli dalam meracik kopi. John Chendra merupakan pemilik Toko Ujung, toko yang sangat dikenal dari dulu oleh masyarakat Makassar. Merupakan ‘swalayan’ pertama yang ada di Makassar yang terletak di Jalan Somba Opu.

Toko Ujung telah hadir di Makassar jauh sebelum Indonesia merdeka. Kata John Chendra, Toko Ujung telah melayani kebutuhan sehari-hari masyarakat Makassar sejak awal abad ke-20, dan sekarang telah memasuki generasi ke-5. Di genarsi yang kelima ini, Toko Ujung dalam progres untuk merubah konsepnya menjadi toko yang menjual ole-ole khas dari Sulawesi Selatan, khususnya Kopi khas SulSel, kopi Toraja/Kalosi.

John Chendra berbicara mengenai kopi dan Toko Ujung.

Membawa seperangkat alat peracik kopi, sambil membawakan materi, John Chendra mendemokan cara membuat kopi yang nikmat dan pas. Peserta Tudang Sipulung bisa langsung menikmati rasa dan aroma khas dari Kopi Toraja.

Menikmati kuliner lokal

‘Tudang Sipulung kali ini dikemas berbeda dengan sebelumnya. Diadakan di halaman depan dan teras Kampung Buku membuat acara lebih terasa nyaman. Dan tentunya ada banyak kue-kue khas Sulawesi Selatan yang menambah riuhnya acara.

Ada banyak kue yang disajikan, seperti Putu Cangkiri, Putu Menangis, Jalangkote, Sanggara Balanda, Bolu Peca’, Buroncong, dan berbagai kue kas lainnya.

 

Sanggara Balanda, salah satu kue khas Sulawesi Selatan.

Putu Cangkiri

Buroncong, terbuat dari serutan kelapa yang dibakar.

Jalangkote = Pastel

 

Indonesia merupakan negara yang kaya akan kuliner dan merupakan bagian dari budaya yang harus dilestarikan. Hal terpenting yang harus diberikan wawasan dan pemahaman adalah kesadaran akan pentingnya suatu sikap dan perilaku yang bangga terhadap kuliner kita.

 

Makan-makaaaaan

Advertisements