Tags

, ,

Teater Tari dan Musik I La Galigo

Setelah sukses di beberapa kota di Eropa, Amerika dan Asia, akhirnya epik I La Galigo kembali ke kampung halamannya.

Pemantasan I La Galigo

24 April 2011, Fort Rotterdam Makassar, hari kedua pementasan setelah hari sebelumnya telah diadakan pementasan pertama khusus untuk para undangan. Hari kedua ini saya termasuk dari 1000 orang yang sangat ‘beruntung’ bisa menyaksikan langsung karya teater tari dan musik yang sangat megah dari karya sutradara terbaik Robert Wilson.

Sore itu langit Makassar tampak mendung dengan sedikit gerimis. Sedikit kekhawatiran karena pementasan I La Galigo kali ini dilakukan di ruang terbuka, berbeda dari pementasan di kota-kota sebelumnya yang diadakan di ruang teater.

Setelah senja mulai menyingsing, kami pun masuk ke gerbang utama Benteng Rotterdam. Para pengunjung terlebih dahulu di arahkan ke dalam museum yang menampilkan beberapa benda-benda peninggalan sejarah dan budaya Sulawesi Selatan. Juga di tampilkan dokumentasi dari pertunjukan I La galigo di yang telah diselenggarakan sebelumnya di beberapa kota dunia.

 

Tentang I La Galigo

Sureq I La Galigo atau biasa di sebut epik I La Galigo hikayat asal muasal bangsa Bugis. Hikayat ini mulai berkembang sebagai cerita lisan yang dikisahkan banyak pendongeng dari beberapa generasi sebelum abad ke-14, ketika kemudian aksara Bugis asli dibuat dan hikayat ini mulai dituliskan dalam bahasa Bugis kuno. Sekarang ini lebih dari 100 naskah yang diketahui dengan panjang 6000 lebih halaman dan 300.000 teks baris yang menjadikan Sureq Galigo merupaka teks epik terpanjang di dunia mengalahkan teks Mahabharata.

Teater Tari dan Musik I La Galigo

Pementasan teater kelas dunia yang sangat memikat. Kurang lebih 2,5 jam para penonton disajikan sebuah pembelajaran sejarah dan budaya leluhur bangsa Bugis yang sangat artistik.

Pertunjukan dimulai dengan alunan Sindrilli (alat musik khas Sulsel) dan masuknya Puang Matoa Saidi yang menjadi narator tunggal. Beliau duduk di sudut kiri panggung. Beliau adalah pimpinan Bissu dari komunitas kepercayaan Talotang di Amparita Sidrap.

Dalam teater tari dan musik ini hanya ada satu narator tunggal tanpa dialog. Para pemain mengekspresikan diri mereka melalui tari dan gerak tubuh. Tiap penonton diberikan lembaran sinopsis sehingga bisa mencerna jalannya kisah.

Total ada 10 penggalan cerita yang ditampilkan, dimulai dari prolog yang mengkisahkan tentang awal dunia hingga adegan ke-10 yang menceritakan mengenai I La Galigo dan akhir dunia.

Sedikit saya menceritakan mengenai kisah I La Galigo ini.

Dewa Patotoqe, dewa tertinggi dunia atas mengutus putranya Batara Guru untuk pergi ke dunia tengah. Begitu pun dengan Dewa Ri Selleq, sebagai dewa dunia bawah mengutus putrinya We Nyiliq Timoq ke dunia tengah.

Batara Guru dan We Nyiliq Timoq, akhirnya dipertemukan dan menikah. Dari hasil pernikahannya melahirkan sepasang kembar emas yakni seorang putra bernama Sawerigading dan putrinya bernama Wa Tenriabeng. Namun, para dewa meyakini bahwa mereka akan ditakdirkan jatuh cinta dan itu merupakan kehinaan dan azab bagi dunia atas, tengah dan bawah sehingga mereka berdua langsung dipisahkan sejak lahir.

Setelah dewasa, Sawerigading dari penjelajahan di belahan dunia lain akhirnya kembali dan bertemu dengan saudari kembarnya Wa Tenriabeng. Pertemuan terlarang ini menyebabkan mereka berdua jatuh cinta. Sawerigading sangat terpukau dengan paras wajah dari saudarinya sendiri.

Karena takut akan kutukan para dewa maka Wa Tentiabeng menyuruh saudaranya Sawerigading untuk pergi ke bumi Cina. Di sana dia akan bertemu dengan seorang putri yang sama cantiknya dengan Wa Tenriabeng. Putri tersebut bernama We Cudaiq. Ia bersumpah tidak akan kembali ke tanah Luwuq, tanah kelahirannya.

Dengan bala pasukan dari Sawerigading, akhirnya dia berhasil ke negeri Cina dan bertemu dan melamar We Cudaiq. Namun, We Cudaiq menolak lamaran itu karena menerima laporan dari dayang-dayang bahwa Sawerigading adalah seorang yang sangat jelek, buruk rupa, kasar, dan bengis tanpa melihat rupa asli yang sesungguhnya dari Sawerigading. We Cudaiq tidak sudi melihat wajah dari Sawerigading. We Cudaiq, sosok putri yang sangat cantik rupawan seperti Wa Tenriabeng, tetapi Sawerigading mendapati sifat yang angkuh dan congkak serta perilaku yang berbeda dengan saudarinya tersebut.

Mengetahui penolakan dari We Cudaiq atas lamarannya. Sawerigading naik pitam, dan membumihanguskan bumi Cina. Akhirnya ayah dari We Cudaiq berkompromi dan membujuk We Cudaiq untuk menikah dengan Sawerigading dengan syarat Sawerigading harus memulihkan bangsa Cina dan seluruh rakyat dan pasukannya.

Pernikahan itu akhirnya dilaksanakan dengan hati yang tidak tulus oleh We Cudaiq. We Cudaiq tidak sudi melihat wajah Sawerigading. We Cudaiq membungkus tubuhnya dengan tujuh lapis kain di belakang tujuh gerbang yang dijaga ketat. Di suatu malam Sawerigading berhasil ‘menembus’ segala tameng dari We Cudaiq.

We Cudaiq hamil. Setelah melahirkan anak dari Sawerigading, dia memerintahkan untuk membuang anaknya itu ke sungai. Sawerigading mengambilnya dan mengasuhnya. Anaknya itu diberi nama I La Galigo.

Selang beberapa tahun. We Cudaiq sangat ingin bertemu dengan anaknya. Dalam sebuah perlombaan sabung ayam, We Cudaiq bertemu dengan seorang pria yang sangat tampan dengan seorang anak di sisinya. We Cudaiq bertanya kepada ajudannya siapakah orang tersebut. Ajudannya pun berkata bahwa dialah Sawrigading dan anakmu I la Galigo. Akhirnya, We Cudaiq melihat wajah asli Sawerigading yang sebenarnya.

Akhir dari kisah adalah kembalinya Sawerigading dan anaknya I La Galigo ke tanah Luwuq. Dia melanggar janjinya untuk tidak kembali demi bertemu dengan saudari kembarnya. Dewa patotoqe ‘memfatwakan’ bahwa semua keturunan dewa akan dikembalikan ke dunia atas dan dunia bawah. Dunia tengah dibersihkan dari pengaruh para dewa. Sawerigading menjadi penguasa di negeri bawah dan Wa Tenriabeng penguasa ke dunia atas. Keturunan dari Sawerigading akan dipertemukan dengan keturunan dari Wa Tenriabeng. Gerbang yang mempertemukan dunia tengah dengan dunia atas dan bawah ditutup dan digembok selamanya. para dewa tidak akan lagi campur tangan langsung dalam urusan manusia. Sepasang manusia menentukan jalan hidup mereka sendiri di dunia baru tanpa dewa.

Putra Sawerigading, I La Galigo dipertemukan dengan putri dari Wa Tenriabeng. Dari keturunan inilah bangsa Bugis dilahirkan.

Pujian untuk teater I La Galigo

Panggung yang besar dan megah dengan tata cahaya yang menurut saya sangat berkelas dengan paduan musik yang sempurna cukup membuat saya takjub dengan hasil karya ini. Untuk menciptakan ekspresi dramatis, instrumen Jawa dan Bali ditambahkan ke dalam lima instrumen Sulawesi tradisional aslinya, dan instrumen lain yang baru juga dibuat, sehingga akhirnya terdapat 70 instrumen yang dimainkan oleh 12 musisi. Para pelaku produksi pentas ini terdiri dari 53 pemusik dan penari yang semuanya datang secara ekslusif dari Indonesia dan sebagian besar dari Sulawesi.

Terima kasih untuk Robert Wilson, sang sutradara yang telah mengangkat pertunjukan kisah budaya Sulawesi Selatan ini ke level dunia.

*Ole-ole dari I La Galigo 🙂

Baju I La Galigo

 

*Terima kasih Ifant Gibran atas foto-fotonya 🙂

Advertisements