Tags

, , ,

Mata saya tertuju membaca tweet dari Mbak Risa Amrikasari kemarin.  @RisaHart : Tamasya kemiskinan di program ‘jika aku menjadi’ TransTV memuakkan. Dan saya pun langung meretweet dengan menambahkan shout ‘Industrialisasi Kemalangan’.

Acara Reality Show dan kemiskinan

Saat ini acara reality show yang ‘menjual’ kemiskinan dan penderitaan orang lain sungguh telah membanjiri tayangan televisi kita. Lihat saja, di stasiun – stasiun tv  swasta saat ini, berlomba-lomba menghadirkan program ‘Jika Aku Menjadi’, ‘Minta Tolong!’, ‘Bedah Rumah’, ‘Uang Kaget’, dan banyak lagi yang ternyata mendapat rating yang besar di masyarakat kita.

Tamasya kemiskinan yang ditampilkan di acara tersebut mungkin mengasyikkan ditonton oleh sebagian masyarakat, tapi apakah itu mengedukasi kita?

Si ‘Orang kaya’ datang menginap di rumah ‘Si miskin’ untuk beberapa hari, merasakan penderitaan dan kesusahan. Selanjutnya dibumbui dengan air mata ketika hendak kembali pulang dan menghadiahi ‘Si miskin’ dengan beberapa keperluan mereka.

Siapa yang diuntungkan? Tentu hanya si pihak penyelenggara yang meraupnya dari berbagai iklan dan sponsor yang mendukung acara tersebut.

Komersialisasi Kemalangan

Mungkin beberapa orang akan mengatakan bahwa tontonan semacam itu bisa menggugah iba para penonton sehingga orang lain tergerak untuk membantu.

Namun, sebuah pertanyaan saya kembali muncul.

Apakah kemiskinan yang sangat menyedihkan itu pantas untuk dieksploitasi?

 

Advertisements