Sebuah telepon tak terduga yang masuk di suatu sore saat saya sedang menikmati teh hangat di teras kamar sambil bengong, membiarkan otak saya bebas terbang kemana-mana. Sebuah aktivitas yang menyenangkan untuk dilakukan sekali-kali.

Suara yang masuk ke handphone saya itu adalah suara yang familiar yang lama saya tidak dengar.Β  Seorang sahabat baik yang sempat bersama tiga tahun semasa SMA. Dia mengajak untuk bertemu dan reuni kecil-kecilan dengan teman-teman SMA yang lain. Malamnya kamipun berkumpul dengan empat teman lama, di sebuah kafe di salah satu mall.

Setelah ngobrol ngadul-ngidul, saya pun bertanya mengenai pekerjaan ke salah satu tema saya yang menurut saya paling mapan di antara kami. Teman saya itu menjelaskan, ia telah 5 tahun bekerja di sebuah perusahaan BUMN. Namun, tidak ada rasa antusias yang saya tangkap dari kata-kata yang ia ucapkan. Dia pun bercerita bahwa ia merasa pekerjaan lima tahunnya itu benar-benar menenggelamkannya sehingga ia tidak pernah punya waktu untuk berpikir dan memberi kesempatan dirinya lepas dari ‘zona nyamannya’, melakukan sesuatu yang baru yang lebih bernilai untuknya.

“Saya bosan dengan aktivitas keseharian saya. Sy tidak pernah mikir untuk diri sendiri. Sekarang adalah waktunya mencoba hal baru”, katanya dengan suara meninggi.

Berubah

Setiap orang pasti berubah. Selalu ada fase dalam hidup kita yang membuat kita berubah. Entah itu perubahan dalam hal positif ataupun negatif.

Ketika SMA, walaupun bergaul dengan banyak teman namun saya tetap merasa bahwa saya itu ‘kuper’ (kurang pergaulan). Soal pertemanan, saya hanya berteman dengan kelompok tertentu yang saya nyaman dengan mereka dan tidak pernah mencoba bergaul di tempat lain.

Saat itu, saya berpikir berada dalam comfort zone saya dan tidak ingin berubah. Entah bagaimana awalnya suatu hari saya mendapat kekuatan untuk memutuskan keluar dari comfort zone saya selama ini. Dengan hati deg-degan saya melangkah keluar.

Apakah yang terjadi setelah saya keluar? Ternyata dunia menawarkan saya berjuta pilihan.Β  Berteman? kini saya punya teman yang dari ekstrim kiri hingga kanan, yang sampai kanannya gak kelihatan. Punya teman seorang ustadz hingga teman yang bertatto dan berambut gondrong. Punya teman yang playboy/playgirl dan sering berselingkuh, teman yang seorang pujangga, dan teman yang biasa-biasa saja, biasa mabuk maksudnya.

Saya tidak mengerti, tetapi memang tidak perlu saya mengerti. Ini lebih pada melihat dan membuka mata dan hati untuk sebuah dunia lain selain Man. Utd dan Ferrari.

Tetapi, ketika kini saya berpikir berhasil keluar dari zona nyaman saya itu, saya pun kembali terperangkap pada zona nyaman yang secara tidak sadar telah saya bangun sejak saya keluar dari zona nyaman sebelumnya. Saya pun berpikir, tiap orang yang berusaha keluar dari zona nyamannyapada dasarnya ia ingin membuat zona nyaman yang lain yang belum ia dapatkan sebelumnya.

Hidup itu beresiko

Berubah memang membutuhkan usaha dan mendatangkan resiko. Bukanlah hidup itu beresiko? Mau kerja harus ulet dan pantang menyerah. Mau alim harus rajin belajar dan ibadah. Mau tubuh yang atletis harus rajin olahraga atau nge-gym. Mau cantik harus rajin perawatan atau nyalon. tapi kalau sudah jelek dari awalnya, sepertinya susah jadi cantiknya.

Jadi, harus ada tindakan yang harus dilakukan dan tindakan inilah yang sering kali membuat kita malas dan mungkin takut akan resiko dan perubahan yang akan dihadapi dan berkomentar klise, “Ah, gini aja”

padahal, kalau saja tindakan itu dilakukan, semua adalah pengalaman yang akan memperkaya batin dan akhirnya membahagiakan. πŸ™‚

Advertisements