Tags

,

Disuatu siang yang basah oleh hujan yang deras, saya bersama teman kampus sedang makan di kantin kampus. Hidangan Coto Makassar khas Jastek (kantin Teknik) membuat badan saya berkeringat ditengah dinginnya siang itu. Kamipun ngobrol dan melempar canda seperti biasa. Sampe akhirnya seorang teman memotong. “Wih, IPhone 4 yah? keren ya, beli kapan? Celetuk teman saya ketika melihat teman saya yang lain mengeluarkan handphonenya dari saku celananya. Teman saya itu pun menimpali dengan berkata, “Ah, tidak ! ini Iphone abal-abal, ipun-ipunan”. yang langsung diikuti tawa oleh temanku itu dan berkata, “Ah, gengsi dong pake imitasi”

Membeli gengsi

Sebelum saya bercuap-cuap lebih lanjut mengenai gengsi, mari kita membaca bersama apa sebenarnya yang dimaksud dengan kata gengsi, sebuah kata yang sehari-hari sering kita dengar dan terucap dengan indahnya.

Menurut Bapak WJS Poerwadarminta di dalam kamusnya. Gengsi adalah ‘kehormatan dan pengaruh yang diperoleh karena perbuatan besar”. Yah, saya tekankan kembali, karena perbuatan ‘besar’, bukan barang ‘besar’.

Saya pun berpikir, jadi selama ini saya keliru mengartikan kata ‘gengsi’ itu. Saya yang menganggap diri saya termasuk orang yang ‘gengsian’ yang haus akan kehormatan dan pengaruh ternyata sama sekali belum melakukan perbuatan’besar’.

Kembali lagi ke kata gengsi yang kita pahami selama ini. Gengsi akan prestise, kekayaan, kehormatan, dan segala hal yang menyangkut materi. Saya jadi ingat sebuah lagu dari Efek Rumah Kaca yang berjudul ‘Belanja terus sampai mati’. Lagu yang cukup menyentil kita para pengikut gengsi.

Mengapa orang selalu terobsesi dengan sesuatu yang mahal? Sangat tergila-gila dengan merek dan menjadi sophisticated? Mengapa orang kaya rela mengabiskan (lebih tepatnya menyisihkan) sebagian kecil duitnya untuk sebuah barang bermerek?

Saya yang berpura-pura sebagai orang kaya pun menjawab, “yah, gengsi dong pake yang murahan, toh itu tidak menggoyang finansial saya”.

Karena saya tidak punya apa-apa

Itulah gengsi yang diartikan saya dan segelintir orang. Dalam diri pun kembali berkata, karena sebenar-benarnya saya tak punya apa-apa yang patut dibanggakan, maksudnya perbuatan besar (dan juga barang besar) seperti yang dijelaskan Pak Poerwadarminta tadi.

Saya tak henti tersenyum ketika mengingat dalam suatu kesempatan lain saya dijemput teman saya dengan mobil mewahnya dan turun di lobi hotel berbintang. Pintu dibukakan petugas hotel dan pandangan yang diberikan orang-orang itu menyiratkan mereka berpikir saya kaya dan seorang yang penting. harus diakui, momen sejenak itu memberi rasa nikmat pada ego saya. Tetapi sedetik kemudian, hati saya kembali nyerocos. “Eh, kamu punya apa bro? Punya orang kok dibanggakan”. šŸ™‚

Advertisements