Pergantian tahun selalu membuat rasa senang saya memuncak. Menyambut hari jadi saya saja, saya tidak seantusias menghadapi tahun baru. “Sudah 2011 ya? Sudah tambah tua dan makin pikun, ya gak? komentar teman saya kemarin ditengah tugas yang menumpuk. Saat itu dia malah menggambarkan sketsa wajah saya yang sudah renta dan berkata, “hati-hati kek, jaga mata, nanti buta”.

Apa yang membuat saya suka dengan tahun baru? Karena bagi saya tahun baru adalah sebuah penghapus. Ingin cepat menghapus album lama sejumlah tiga ratus enam puluh lima halaman yang selain membuat hal baik dan indah, juga tidak sedikit hal yang menyakitkan. Olehnya, saya selalu menanti tahun baru dengan penuh kesabaran dan segera menghiasi perjalanan hidup saya yang baru.

Kuliah yang tak kunjung kelar, target yang meleset bahkan sama sekali tidak terealisasi, dan kisah cinta yang tak kunjung dipertemukan. Yah, katanya jodoh di tangan Tuhan, tiap orang akan dipertemukan dengan jodohnya. Kalau dipikir-pikir lagi, janji mendapat jodoh sudah saya dengar dari sejak retail Alfa Mart belum menjamur seperti sekarang. Tapi karena dasarnya geblek, yak hal yang seperti itu masih saja saya percayai.

Hancur

Tahun 2010 memang cukup lumayan bagi saya, lumayan hancurnya. Berencana mau ini dapatnya itu. Mau kesana eh jadinya kemari. Mau di atas, malah tertindih lagi di bawah. Mau cakep, weleh-weleh repotnya, malah dapat ‘ole-ole’ abadi setelah pulang dari KKN.

Kakak saya yang sudah mirip penjual kosmetik oriflame mengatakan. “Wah, kalau lihat bopeng di mukamu, saya sarankan ke dokter saja. Ini sudah bak kanker stadium 4, parah”. Katanya tanpa rasa dosa secuil pun.

Diatas semua itu, saya adalah manusia yang tak suka menyimpan kenangan lama, baik itu bagus atau tidak. Saya tidak mau dikaitkan dengan masa lalu. Saya tidak pernah menyimpan kartu lebaran atau kartu ulang tahun dari masa lalu. Saya tidak pernah mengurusi foto-foto lama keluarga saya atau teman saya. Tak pernah tersimpan atau terpajang di kamar saya, seperti kamar beberapa teman saya.

Saya berbaring di beranda dan termenung setelah mengevalusai kegiatan dan cita-cita saya selama setahun ini. Selagi momen termenung itu berlangsung pertanyaan aneh tiba-tiba muncul. Pertanyaannya, masihkah sebenarnya ada yang baru untuk saya pada tahun baru ini?

Berharap ada yang baru

Saya ingin panjang umur dan sukses. Kataku ke teman-teman yang disambut tawa terbahak-bahak karena setiap tahun saya bercita-cita seperti itu. Saya mau mendapat jodoh, sukses, kaya raya. Sungguh sama sekali harapan yang sangat jadul dan ketinggalan. Jadi sebenarnya tidak ada harapan baru yang saya miliki ditiap tahunnya.

Saya mau menjadi manusia yang sabar, rendah hati, dan tidak sombong, itu juga bukan harapan baru. Saya sakit hati, itu bukan hal baru. Bercita-cita untuk tidak sakit hati dan mencoba mengerti orang lain, itu juga bukan hal baru dan harapan baru. Karena tahun lalu saya mengharap bisa seperti itu, tapi apa daya kandas di seperempat jalan.

Jadi, selama ini saya bergembira menyambut tahun baru dan baru sekarang saya sadar hanya memperpanjang harapan-harapan lama untuk terjadi lagi pada tahun baru.

lalu apa coba gunanya saya bergembira menyambut tahun baru, toh keadaan saya sama sekali tidak ada yang baru?

Advertisements