Currently listening : Maliq & D Essentials – Coba Katakan



3 hari yang lalu saya menghadiri reuni SMA. Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Makassar. Sekolah yang katanya anaknya paling gaul seantero Makassar *padahal, cuman menang digaya, hehe*. Reuni kali ini merupakan reuni akbar untuk seluruh angkatan, tidak heran para undangan yang datang begitu mebludak.

Smansa Makassar, 2002 sampai 2005, hanya sempat 3 tahun saya ‘menimba ilmu’ di sekolah ini. -jadi maumu berapa tahun cal?

Jika kamu menerima undangan dalam acara reuni, what’s the first thing in your mind?
Entah, mendadak saya merasa sudah sangat tua. Walaupun dikatakan masih alumni baru, tetapi sadar sudah 4 tahun meninggalkan SMA, perasaan ‘tua’ itu tentu tak bisa dihilangkan -sudah 22, duuh, belum sarjana lagi- :). Perasaan yang campur aduk tentu muncul, senang iya bisa kumpul lagi dengan teman lama, tetapi perasaan cemas pun muncul. Tiba-tiba dalam pikran saya timbul pertanyaan “What will they think about me?”, ohh, saya selalu merasa was-was terhadap pandangan orang ke saya. Saya juga mendadak takut akan pertanyaan “what’s new with u?”, pertanyaan yang membuat saya tentu menjadi minder, karena belum ada progress yang berarti dan belum punya apa-apa yang bisa dibanggakan.

Tetapi, saya terlanjur excited dengan reuni kali ini, jadi tidak peduli dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, karena tujuan saya hanya untuk nostalgia, bersenang-senang dengan kawan-kawan SMA, walaupunpun rasa ‘minder’ itu tetap saja mengganggu.

Acara kumpul-kumpul itu sangat menyenangkan. Bisa kumpul lagi dengan teman-teman yang datang dari berbagai kota, bahkan yang merantau ke luar negeri. Perubahan tentu saja ada. Yang satu jadi tambah kaya, yang satu jadi tambah cantik, dan satunya jadi tambah cakep, ada juga yang tambah hancur, yaa…siapa lagi kalau bukan saya. Yang dulunya gendut, sekarang sudah slim, yang dulunya paling cupu, bisa berubah seperti artis, yang dulunya malu dengan bahasa inggrisnya sekarang sudah ceplas-ceplos seperti cincha Laura, yang dulunya paling nakal dan dijadikan standar mengerti atau tidaknya teman sekelas, ehh malah dia yang paling cepat sarjananya

Acara reuni juga tidak bisa dipisahkan sebagai ajang ‘show off’. Salah satu teman tiba-tiba mengantongi kamera pocketnya ketika masuk diruang reuni karena malu dengan kamera SLR yang berseliweran dimana-mana. Saya pun sempat kebingungan untuk memarkir motor saya karena tidak ada motor yang saya lihat di area parkir, yang ada hanya mobil dan mobil. Mulai dari mobil yang katanya mobil sejuta umat sampai mobil mewah sekelas BMW dan Mercy S-Class.

Ok, kembali ke reuni tadi. Perbincangan kami pun beralih ke masalah kuliah dan kerjaan. Tiga dari teman saya sudah kuliah S2, saya pun berpikir jangan-jangan nanti dia selesai S2, saya malah belum selesai S1. Salah satu teman saya itu bernama Uge, nama yang biasa kami panggil waktu SMA, singkatan dari Ulu Gede -Ulu dlm bahasa Makassar artinya kepala-. Kepala yang besar pantas baginya karena memang otaknya luar biasa pintarnya, rajanya matematika, dan selesai di jurusan ekonomi hanya tiga setengah tahun dengan predikat Cum Laude. Ada juga yang sudah jadi pengusaha minyak, sudah jadi direktur diperusahaan keluarganya. Sudah jadi raja minyak dia. Ada juga yang jadi pengusaha roti, waralabanya dimana-mana, yang menjual Roti Maros yang sangat enak itu. Dan banyak lagi, ada yang jadi karyawan BUMN, ada yang jadi PR, adapun yang jadi koboi kampus, yaa…itu saya.

Kenangan saya pun kembali ke tahun-tahun ketika saya duduk di SMA. Teman-teman yang saya ketemu di acara reuni tersebut, tidak lain merupakan partner in crime saya dulu di SMA. Walaupun katanya saya ini orangnya ‘baik-baik’ dan burenk (buru rengking), tetapi kalau diingat-ingat banyak juga catatan hitam saya ketika SMA. Ingat, sewaktu upacara tiap senin, bolos dari upacara dan sembunyi di taman depan Masjid. Main Game Ragnarokdi depan sekolah sampe dikejar-kejar kepsek yang lagi buser. Dikurung di perpus karena terlambat datang sekolah atau diancam diberi nilai 3 dirapor karena bolos pelajaran seni menari -saya selalu phobia dengan menari-menari, kesannya kayak bencong saja, sorry yang tersinggung-.

Saya pun kembali berpikir. Tuhan memang selalu memberi kejutan dalam diri tiap orang. Tuhan menentukan takdir seseorang yang orang lain tidak akan menyangkanya bisa seperti sekarang. Melihat teman-teman saya yang sudah sukses atau ‘nyaris’ sukses, menjadikan cambuk bagi saya untuk bisa lebih. Saya bangga bisa berteman dengan mereka, dan bersyukur Tuhan mengenalkan saya dengan semuanya. Saya bersyukur memiliki teman-teman seperti mereka, yang tetap tidak sombong kepada teman-temannya.

Yaa, reuni memberi rasa yang campur aduk bagi saya. Pede sih, tapi masih ada rasa canggung.
It’s awesome for some people, but it’s awkward for others.

Bulan ini kan bulannya halal bi halal/reuni. Bagaimana dengan reuni kamu?



Advertisements