“Sesungguhnya Allah memiliki 100 kasih sayang dan 1 kasih sayang yang dimiliki-Nya diturunkan ke bumi, yang dengan kasih sayang itu, ibu mencintai anaknya, burung-burung memberi makan anak-anaknya dan sampai harimau pun tidak akan menyakiti anaknya.” (Hadits Nabi)

Sebuah perasaan cinta dan kasih sayang dari orang tua yang tentu diharapkan oleh seluruh anak yang ada di bumi ini. Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Dengan berada disampingnya, kita dapat berbagi perasaan, perhatian, dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Namun tidak semua anak mendapatkan kesempatan mencicipi kasih sayang orang tuanya termasuk yang dialami oleh dua ‘kurcaci’ yang ada dikeluargaku saat ini.

Syahfika & Aisyah.

Tak terasa sudah 3 tahun mereka tinggal bersama kami. Agustus 2006, pertama kali mereka datang ke Makassar dari negera seberang, Malaysia. Tanteku yang sudah belasan tahun tinggal di Malaysia, memutuskan untuk balik ke kampung halaman untuk menghabiskan masa tuanya. Kepulangannya tidak hanya membawa banyak ole-ole namun juga dua ‘malaikat kecil’ yang menghilangkan kesunyian rumahku hingga saat ini. Tanteku memutuskan untuk membawa keduanya untuk dirawat dikeluargaku.

Pika dan Ain, nama panggilannya keduanya, adalah ponakanku sendiri. Mereka adalah anak dari sepupuku, Imelda dan ayahnya adalah seorang warga Malaysia. Disaat yang masih belia, sekitar umur 16 tahun, Imelda sudah pergi mengadu nasib ke Malaysia dan sudah menjadi warga Malaysia dan menikah dengan warga asli sana. Namun nasib baik yang diharapkan ternyata jauh dari kehidupannya. Akhirnya keluarganya hancur berantakan dan anaknya pun menjadi korban utama.

Orang tuanya sepertinya tidak punya bakat menjadi orang tua yang sebenarnya. Menjadi orang tua yang mengayomi anak-anaknya, menjadi pembimbing, panutan dan teladan. Namun yang ada malah sebaliknya, terjerat dalam kehidupan hitam, jerat narkoba, judi, dan keluar masuk penjara. Mereka hanya bisa menelantarkan anaknya bahkan menjualnya ke orang lain.

Pika dan Ain tidak hanya berdua, masih ada dua saudaranya lagi yang kami tak tau nasibnya bagaimana sekarang. Anak tertua bernama Syafik, kemudian Ain, lalu anak yang ketiga saya tak tau namanya dan yang terkecil si Pika. Mereka masih kecil-kecil, yang tertua kira-kira kini berumur 13 tahun. Syafik, anak tertua, diambil oleh ayahnya dan kabarnya sekarang menjadi kuli di salah satu pasar di Tawao, Malaysia. Saudaranya yang ketiga yang saya tak tau namanya nasibnya lebih buruk lagi, dia dijual oleh ibunya ke orang Filipina, naudzubillah.

Pada seminggu setelah kelahirannya, Pika sudah dirawat oleh tanteku. Ibunya kembali pergi ke dunianya sendiri, tanpa meninggalkan kasih sayang. Pika, anak manis yang sangat menggemaskan tak pernah mencicipi setetespun air susu ibunya dan tidak mengenal kata ‘mama’ dan ‘papa’.

Tanteku yang semakin tua dan semakin payah, dan hanya sendiri mengasuh kedua anak ini -tanteku tidak memiliki suami- dia pun memutuskan untuk kembali ke Makassar dan membawa keduanya. Saat itu Pika sudah berumur 1 tahun dan Ain berumur 4 tahun. Dan dua ‘kurcaci’ inilah yang ‘meributkan’ rumahku hingga saat ini.

Kami sekeluarga mengasuhnya dengan kasih sayang. Perhatian dan kasih sayang kami penuh kepadanya. Saat ini ayah dan ibu saya sudah dipanggil kakek dan nenek. Panggilan yang sangat diinginkan oleh orang tua saya dari dulu. Kakak saya yang tertua belum dikaruniai anak diumur pernikahannya yang ke-7. Walaupun belum mendapat cucu asli, setidaknya sudah ada cucu lain yang memanggilnya kakek dan nenek dan sudah ada yang memanggil saya om.

Ain saat ini sudah duduk dikelas 2 SD dan si kecil tahun depan insyaAllah sudah masuk TK. Kami membuatkan akat kelahiran ke dalam keluarga Kami. Kami juga memberi nama kepadanya. Saat pertama datang keduanya belum mempunyai nama asli, hanya nama panggilan, Ain dan Pika. Jadi kami beri nama Syahfika untuk Pika dan Aisyah untuk Ain.

Sudah tiga tahun mereka bersama kami, dan tiga tahun pula mereka meramaikan keluarga kami. Mengisinya dengan keceriannya yang membuat kami tertawa dan kenakalannya yang membuat kami marah-marah. Tetapi Kami berjanji untuk mengasuhnya sebaik mungkin, membesarkannya dan menjadikannya sebagai ‘orang’.

Dan minggu kemarin tanggal 31 Agusutus (bertepatan dengan hari raya Malaysia) Cipika genap berusia 4 tahun dan kakaknya Ain tanggal 11 September besok genap berusia 7 tahun. Semua harapan terbaik kami berikan pada mereka, semoga keduanya senantiasa dalam lindungan Allah, dijadikan anak yang soleh yang selalu mendoakan kebaikan kepada orang tuanya, dan menjadi sebab dalam kebaikan untuk dirinya dan keluarga.

“Orang yang paling bahagia tidak selalu memiliki hal-hal yang terbaik, tetapi berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya”

Pika & Ain mungkin tidak memiliki hal yang terbaik itu, yakni kasih sayang orang tua, tetapi kami akan menjadi yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya.

happy birthday to my niece

Ini dia sebagian foto-fotonya. Hardisk saya penuh karena foto-foto anak ini, 😀

Pika Umur 1 Tahun


sama kakaknya, Ain

Pika sama Om-nya

Pika umur 2 tahun

diulang tahun ke-2 Pika, dan ke-5 Ain

Pika diumur 3 tahun


Advertisements